Jumat, 20 April 2012

Test of skill

Apa yang menjadi ukuran tingkat keahlian seorang juru masak? Kemampuan untuk membuat masakan yang rumit? Ataukah kemampuan untuk membuat sesuatu yang sederhana terasa kompleks?

Debat kusirnya mungkin akan panjang, jadi saya akan berpendapat dari sisi subyektif saya. Saya sendiri lebih cenderung ke pertanyaan yang kedua. Masakan yang sederhana merupakan ajang ukur diri akan kemampuan memasak seseorang. Untuk Indonesia,  mungkin nasi goreng akan masuk di kategori makanan sederhana ini.


Kenapa nasi goreng? Mudah ditemui di mana-mana.. Di restoran mahal sampai pedagang keliling seperti ini menjual nasi goreng.


Banyak yang bilang nasi goreng enak karena campurannya... Seafood, kambing, ayam, babi, sayuran.. sangat beragam pilihannya... Tapi menurut saya, tes ukur kemampuan yang sebenernya di nasi goreng hanya dengan menggunakan nasi, bumbu dan telur.


Rasa merupakan pengalaman, fantasi dan harapan. Selalu ada ekspektasi soal rasa, bayangan soal kenikmatan dan ingatan soal enak dan tidak enak. Sajian mewah belum tentu memuaskan, yang sederhana pun belum tentu murahan.


Penjual nasi goreng keliling ini merupakan contoh kesederhanaan dari makanan. Mereka tidak menawarkan topping yang muluk-muluk. Hanya bertaruh pada pengalaman kepuasan makan si pembeli makanan.


Rasa makanan tidak pernah kompromi soal tempat dan harga. Rasa merupakan gengsi dari makanan itu sendiri.








Ada beragam penjual sejenis, namun rasanya tidak pernah sama satu dengan yang lain. Menyenangkan bukan?

Tidak ada komentar: